PELABUHAN TERAKHIR
Duduk di pintu sejarahmu
Kembang – kembang semerbak, menenun rinduku
Ke arah sejarah leluhur; dengan sisa tembang
Pada tahun kemarau, namun masih semerbak
Dari melati yang tumbuh di pintu sejarahmu
Hiduplah negriku !
Dari melati yang masih semerbak
Tumbuhlah engaku di hati sanak saudaraku
Bertahan mendoa melerai air mata
Biarpun kemarau berganti tahun ke tahun
Hiduplah negriku !
Kan kubuka pintumu kembali
Dengan sehelai kain kafan yang terbentang di mata
Di rerumputan melati yang semerbak ke hati
Ke bumi ke langit
Tempat menulis sajak ini berarah
28/12/09
HAMPARAN LAUT
Di ujung pelabuhan ini
Kunyanyikan sebuah perhambaan diri
Sepi yang berlarian di antara lampu kota
Itu hanya mimpiku yang masih tertunda
Fitra, masih kutuliskan namamu di ujung jalanku
Sebelum pintu kubuka lalu kutinggalkan langit
Aku berjalan di hamparan bumi
Menuju laut dan desir ombak
Dan kupanggang dagingku dengan dinginnya waktu
Duduk di hadapan cinta dan kisah –kisah itu
Kulewati jejak yang telah jauh
Ujung pulau ini penuh dengan lampu
Hatiku masih tertutup untuk melihat langit
Di antar dekapan cinta yang masih biru
Telang, 28/11/2011