LoA ; sebuah cara mewujudkan cita-cita

DI kelas saat masih kuliah pada program studi Sosiologi, dosenku, Medhy Aginta Hidayat, sebelum berangkat ke Amerika Serikat untuk meraih doktoral-nya, melalui beasiswa Fullbright pernah memutar film tentang The Secret yang membahas mengenai Law of Attraction (LoA).
Beliau merupakan dosen panutan bagiku. Terlebih, karena kami sama-sama menyukai aktifitas ngeblog. Tulisan ini hanya catatan refleksi yang barangkali suatu hari nanti menjadi tulisan lebih panjang lagi.
The Secret ini memuat sejumlah komentar orang-orang hebat di dunia mengenai Law of Attraction (LoA) yang ternyata juga dipelajari para ilmuwan selama ratusan abad silam, seperti Plato, Galileo, Einstein dan beberapa ilmuwan terbaik dunia lainnya.
Film yang dibuat Rhonda Byrne, si penulis buku The Secret ini menyebutkan bahwa ketika kamu mempelajari rahasia ini, kamu akan menyadari bahwa kamu dapat memiliki atau melakukan apapun yang kamu inginkan. Kamu akan menyadari siapa sesungguhnya dirimu. Kamu akan menyadari keagungan sejati yang sedang menantimu dalam hidup ini. Rahasia ini disebut oleh dunia dengan The Secret dengan pemikiran tentang The Law Of Attraction.
Aku cukup menikmati dengan begitu antusias film ini.
Dengan menonton film itu, dosen yang mengampu materi filsafat ilmu tersebut hendak menegaskan agar mahasiswa memiliki semangat fokus dan berkelanjutan saat mengejar cita-cita mereka.
Mengutip Rhonda Byrne sendiri, penulis The Secret menyampaikan hukum tarik-menarik adalah hukum alam, ia tidak memilih orang, siapapun mengalaminya. Ia juga tidak memandang pikiran baik atau buruk, mau atau tidak mau, ia hanya menerima signal dari pikiran anda dan memantulkannya kembali.
Ketika anda focus pada sesuatu sebenarnya anda sedang memanggil sesuatu itu untuk hadir dalam hidup anda.
Maka, ada baiknya juga ketika membayangkan diri. Membayangkan masa depan. Bayangkanlah sesuatu yang baik. Sesuatu yang kita percayai akan terwujud.
Dengan begitu menarik dan percaya diri Rhonda Byrne mengajak diri kita untuk memikirkan apa yang kita impikan.
Menurut dia, ada tiga langkah sederhana dan sangat berdaya untuk mewujudkan penggunaan hukum tarik-menarik ini, yaitu Meminta kemudian Percaya, lalu Menerima dengan perasaan bahagia.
Kata dosenku itu, jika kita memiliki impian. Maka, maka berikanlah perhatian secara fokus.
Dari film itu, aku jadi penasaran dengan ide-ide tentang The Secret tersebut. Lalu, aku menemukan nama Wallace D Watless yang sebenarnya peletak dari Law of Attraction (LoA) itu.
Wallace D Wattles sendiri menulis buku keren berjudul The Science of Getting Rich pada tahun 1910.
Menariknya lagi, ternyata Rhonda Byrne meletakkan kata syukur sebagai bagian tak terpisahkan untuk menjalani keberhasilan.
Sebagaimana diakui sendiri oleh Rhonda Byrne bahwa syukur merupakan ajaran mendasar dari ajaran guru besar sepanjang sejarah. Dalam buku yang mengubah hidup saya, The Science of Getting Rich yang ditulis Wallace Wattles pada1910. Syukur adalah bab terpanjang.
Lalu, setelah membaca tulisan ini. Apakah yang kalian bayangkan?
Kalau aku membayangkan diri dan membayangkan masa depan.
Diam-diam aku mulai menikmati apa yang kupelajari di agamaku sendiri, Islam saat mengutip firman Allah swt dalam salah satu hadis Qudsi begini :
“Aku bersama sangkaan hambaku padaku, maka hendaklah ia berprasangka dengan apa yang ia inginkan”
Nah. Ternyata Tuhan juga akan senantiasa menambah apapun jika terus menerus disyukuri oleh hamba-Nya.
Tuhan Maha Pemurah dan Maha Penyayang.
Kenapa kita tidak pernah fokus dengan apa yang kita impikan?
Aku pernah menyesal, saat tak benar-benar fokus dengan apa yang seharusnya dikejar, dijaga dan dipertahankan. Meski akhirnya, aku bersyukur, inilah cara lain melihat hidup ini, yang selalu membentangkan kesekian episode kehidupan yang diatur sang pencipta.
Mari fokus dan bayangkan diri dan masa depan yang benar-benar diimpikan sebaik mungkin.

Fendi Chovi, 2018

Tulisan saya ini pernah dipublish di Inspirasi.co

Advertisements

Memaknai Ruang Publik untuk Merayakan Semangat Kebinekaan

Ditulis : Fendi Chovi

Hadirnya Habib Rizieq Shihab, sebagai imam besar umat Islam setelah aksi 212 yang dikatakan aksi terbesar dalam kesejarah keindonesiaan ini, memainkan peranan signifikan dalam dinamika narasi keislaman di tanah air. Kesempatan memunculkan narasi keislaman di tengah umat kian bergema. Hal menarik lagi, ketika sang Habib mengemukakan niatnya, tentang perlunya, untuk menjadikan negara sebesar Indonesia ini, menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Bersyariah.

Wacana NKRI Bersyariah ini, bertujuan menjadikan agama islam sebagai titik pijak menyebarkan nilai-nilai keislaman di dalam kehidupan sehari-hari di dalam ruang publik, bagi penduduk Indonesia.

Tentu, NKRI Bersyariah perlu dipertimbangkan dengan matang. Sebab, ruang publik kita, sejak merdeka dari penjajahan, menggunakan Pancasila sebagai ideologi negara. Dan Pancasila pun lahir atas permenungan para pendiri bangsa, untuk menyatukan masyarakat, yang beragam demi menjaga keutuhan NKRI.

Mempertimbangkan NKRI Bersyariah

Menghadirkan wacana NKRI bersyariah di tengah keberagaman bangsa, yang dari dulu menekankan Binneka Tunggal Ika sebagai simbol negara, yang bersatu meski berbeda-beda, pada akhirnya, akan mengusik kehidupan pemeluk agama-agama lain di tanah air.

Denny JA, dalam tulisannya, NKRI bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi, memberikan tanggapan yang serius sekaligus melontarkan pertanyaan tajam yang perlu dirumuskan kembali oleh Habib, bagaimana seharusnya menerapkan NKRI bersyariah dalam implementasi hidup bernegara?

Menurutnya, Habib perlu memberikan gambaran yang jelas dan index yang terukur, agar NKRI Bersyariah, tidak sekadar menjadi list harapan harus itu dan harus ini, bukan itu dan bukan ini.

Denny JA berharap, agar Habib menguji Index itu dengan melihat dunia berdasarkan data. Dari semua negara yang ada, negara mana, yang paling layak dijadikan referensi yang paling tinggi skor indeks negara bersyariah?

Hal itu, setidaknya memberikan gambaran serta mempertimbangkan kembali agar kita terus merawat ingatan bahwa para pendiri bangsa sudah dengan serius memberikan fondasi untuk berdirinya NKRI ini dengan pancasila, yang dinilai lebih manusiawi dalam menjembatani hubungan harmonis antar anak bangsa dalam menjaga keutuhan NKRI.

Sejatinya, ruang publik kita, tempat manusia merayakan dan memperlihatkan segala aktifitasnya, mulai dari menjalankan ritual keagamaan dan mengembangkan tradisi kebudayaan di daerah, harus dijauhkan dari intervensi pihak-pihak yang menyalahi ideologi negara.
Dengan pancasila, kita melihat “ruang publik” yang manusiawi, bagi pemeluk agama untuk menikmati keadilan dalam merawat kepercayaan yang diyakininya. Setiap para pemeluk agama bebas menjalankan praktik ritual keagamaan sesuai dengan kepercayaannya.

Lalu, bagaimana jika ruang publik kemudian menjadi NKRI bersyariah?

Menurut hemat penulis, setiap warga negara (baca, Habib Rizieg Shihab) sah-sah saja melontarkan pendapat, termasuk perlunya, NKRI bersyariah.

Hanya, kita perlu melihat kembali bagaimana penyatuan negara bangsa ini, yang menjunjung tinggi persatuan dalam kerangka meyakinkan warga mereka, yang terdiri dari berbagai etnis suku, agama dan kebudayaan yang berbeda dan hidup berdampingan menjadi negara yang merdeka.

Merawat Semangat Kebinekaan

Lahirnya konsep NKRI Bersyariah sepertinya akan mendobrak fondasi – fondasi kebangsaan yang telah dibangun para founding father bangsa ini, yang menjadikan binneka tunggal ika, sebagai simbol negara, yang beragam dan melebur menjadi bangsa Indonesia.

Untuk itu, ruang publik, yang dimiliki masyarakat, seharusnya lebih menggambarkan interaksi yang humanis dan saling menjunjung tinggi persaudaraan, di atas tanah bernama Indonesia ini, perlu kita jaga dan rawat terus menerus dalam semangat kebinekaan.

Mengutip Ahmad Nurcholish, dalam bukunya, Merajut Damai dalam Kebinekaan, jika Binneka Tunggal Ika menjadi kunci prinsip kehidupan berbangsa dan bernegara di tanah air kita. Pendirian negara bangsa ini meleburkan identitas – identitas kultural yang ada di masyarakat dalam sebuah kesatuan besar.

Meskipun demikian, wacana NKRI bersyariah tetap menarik didiskusikan, namun ruang publik kita telah lebih manusiawi dengan berpijak pada pancasila yang teruji menjadi peyangga kerukunan hidup berbangsa dan bernegara. Bagaimana menurut Anda?

Fendi Chovi, 2019

Pantai Ropet dan Kenangan yang Tersisa …

SIANG itu, bapak mengantarkanku ke pelabuhan Dungkek. Aku memutuskan untuk merayakan tahun baru di Pulau Giliyang.
Sebelum naik ke Tambangan, (perahu) sambil berguyon, beliau mencandaiku, gimana sudah tidak mabuk lautkah?
He he .. aku tiba-tiba merasa malu dan geli.
“Tidak,” jawabku. Tapi, sesekali hanya ada rasa pening. Dan itu tergantung besar kecilnya gelombang ombak yang menghantam perahu.
Kata bapak, ombak-ombak yang aku lihat. Hanya ombak yang tak perlu ditakutkan. Tak ada apa-apa. Dibandingkan ombak yang dihadapi nelayan saat melaut bertarung mencari rejeki.
Aku berangkat. Aku melambaikan tangan. Perjalanan ke Pulau Oksigen ini, tidak memerlukan waktu lama. Tidak sampai satu jam.
Di pinggir dermaga, seorang anak menungguku. Ia murid dari ki Ageng Ropet. Ia disuruh menjemputku.
Tiba di Pulau Giliyang dan istirahat di tempat penginapan.
Aku tidur-tiduran sambil merefleksikan tentang perjalanan-perjalanan yang aku lalui di sepanjang tahun lalu.
Aku menemukan diriku. Seorang pemuda yang dalam hitungan tahun ke depan, akan menginjak usia tigapuluhan. Aku membayangkan tentang hal-hal yang bisa aku kerjakan di tahun ini. Setelah merefleksikan tentang hal-hal yang aku lalui sepanjang 2018. Saatnya, aku pulang ke rumah.

Sepulang dari Pulau Giliyang, setelah dua malam menikmati pergantian awal tahun baru 2019. Sejumlah kisah dan perjumpaan menarik sepanjang 2018 yang kurefleksikan, kini menjadi romantisisme yang bergelantungan di kepalaku.

Refleksi romantisisme itu kunikmati di bibir pantai Ropet. Sebab, pantai menyimpan banyak cerita dan jika ditelusuri hingga masa-masa kerajaan kuno kita akan dibuat takjub. Pantai bisa dinikmati sebagai ruang untuk berkontemplasi,menenangkan diri, memulihkan kekuatan fisik dan batin, serta memandang kebesaran Tuhan.

Menurut cerita, Pantai ini, dahulu kala merupakan hunian, ditempati Kiai Si’im Bin Simati, ulama yang dipercaya menulis Al-Quran 15 juz dengan tulisan tangan dan kini Al-Quran Kuno tersebut masih tersimpan rapi dan dikeramatkan oleh warga Giliyang.

Kiai Si’im bin Simati, merupakan generasi ketiga sebelum Daeng Karaeng Masalle, di Pulau Oksigen tersebut.

Di pantai Ropet, yang kini menjadi destinasi wisata bagi sejumlah wisatawan domestik dan manca ini, memiliki debur ombak yang menenangkan untuk dirasakan serta menyimpan tabungan udara yang menyegarkan untuk dihirup dan dinikmati.

Fendi Chovi, 2019

(Refleksi diri)

Seorang Gadis yang Tergila-Gila dengan Buku

Setiap berkunjung ke kontrakan teman-teman, hal pertama yang ingin aku pahami adalah pola mereka mendesain kamar dan tata letak kebutuhan sandang dan pangan. Mulai baju, galon, lemari buku, kipas angin, cermin, laptop dan terutama kasur. Bahkan, kebiasaan membuang tisu dan plastik bekas ke dalam keranjang sampah.

Aku tak memiliki pandangan buruk kalau kamar amburadul, pertanda orang tersebut juga acakan-acakan. Tidak. Tidak. Setidaknya, tidak sedikit teman-temanku yang jenius dan militan, tempat tidurnya tidak tertata dengan baik. Tetapi, pola penataan kamar yang baik sangat menentukan bagaimana sebenarnya mindset mereka terkait hidup bersih. Itu saja.
Nah, di suatu hari, aku diajak dan ditraktir seorang teman gadis, yang menjadi patner dalam banyak hal, terutama mengerjakan planning tugas-tugasku di organisasi.
Kami sama-sama free. Kami mengelilingi kota yang dikenal sebagai the City of Tolerance naik sepeda motor.
Aku berkata kepadanya. Di kampung halamanku, berboncengan dengan perempuan sesuatu yang tabu. Dilarang dan bahkan bisa berakibat fatal, apalagi, jika sampai tercium bau tokoh masyarakat atau tukang tebar fitnah.
Dalam perjalanan, kami hanya bercerita tentang perbedaan budaya antara aku dan dia. Sempat dia bertanya kepadaku, tentang nikah dini yang lebih terjadi di daerahku. Aku belum bisa menjawab panjang lebar.
“Iya, itu memang sering terjadi. Tapi, bukan berarti tidak ada yang nikah terlambat. Hanya, yang nikah dini saja yang sering disorot,” ujarku.
Dia bertanya, kalau makan, aku lebih menyukai yang seperti apakah, lesehan, atau duduk di meja dan kursi.
Apakah kamu tidak malu berboncengan dengan gadis sepertiku?
Katanya, di kampung halamanmu dilarang. Aku tersenyum. Terdiam.
Haha, dia tertawa.
Aku melihat wajahnya nan putih dan cara dia memerhatikanku. Kami makan lesehan di pinggir jalan.
Udara malam menyisir wajahku dan wajahnya. Kami bercanda dan bertukar banyak pengalaman.
Setelah puas menikmati makan-makan, yang katanya makanan paling disukai banyak orang di kota itu.
Aku mengantarkan ke kontrakannya. Ia menyuruhku masuk dan melihat koleksi buku-bukunya, yang nyaris dua tiga lemari berisi buku.
Aku terkejut. Gadis ini benar-benar perempuan desained oriented, ia juga tipe gadis yang tergila-gila dengan buku. Buktinya, koleksi buku-buku sangat banyak. Buku-bukunya, hampir tertata di setiap dinding kamarnya. Buku-buku filsafat, fiksi, dan sederet buku-buku para penulis yang kukenal, berjajar rapi di kamarnya.
“Kamu ngga takut membawa lelaki ke kamarmu?” tanyaku.
“Hmm, bagaimana, ya. Aku percaya kamu ngga akan berbuat aneh-aneh, bukan?” kata dia sambil tersenyum.
“Aku hanya ingin menunjukkan, kalau koleksi buku-buku milikku banyak. Kamu bisa pinjam yang kamu mau, tapi kamu kudu baca tidak lebih dari seminggu. Apapun kesibukanmu. Apapun alasannya. Nanti kembalikan lagi kalau sudah selesai,” ujarnya.
Di saat aku memilih buku-buku, ia meracik kopi saset yang kami beli di jalan dan aku dipersilakan menikmati kopi buatannya.
Saat kami hendak berpisah malam itu, dia berdiri di pintu gerbang kontrakannya.
“Awas, jangan nakal!” pintanya.
“Dan kerjakan rencana-rencana yang dibuat. Jangan sampai lalai,” harapnya.

Aku pamit. Dan kebetulan juga berjumpa dengan ibu pemilik kontrakannya.
“Pamit ya, Ibu!”

Fendi Chovi, 2017
* (perjumpaan Imajiner)

Roadshow Menulis dengan IAA Dungkek

SUMENEP, koranmadura.com – Budaya literasi harus ditumbuhkan sejak usia dini untuk menangkal serbuan hoax atau berita bohong. Semakin banyak membaca, akan semakin kecil kemungkinan seseorang mempercayai hoax.

Ketua Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Cabang Dungkek, Syamsuni mendorong beberapa pihak agar bersama-sama meningkatkan budaya literasi sejak dini, utamanya melalui jalur sekolah. Langkah tersebut harus diambil lantaran serbuan berita bohong mulai membuntuti siswa.

“Inilah cara kami terus mendorong pendidikan literasi sejak dini, yakni dengan melakukan roadshow menulis ke selolah-sekolah sebagai langkah melawan berita bohong,” tegas Syamsuni pada acara Roadshow “Sehari Menulis, Sehari Menginspirasi”, Minggu, 24 September 2017 yang dilaksanakan oleh Sahabat Literasi IAA Cabang Dungkek.

Dalam dunia pendidikan, kata Mantan Ketua Perpustakaan Annuqayah Pusat itu, ada enam literasi dasar yang sebenarnya sudah diperkenalkan secara bertahap sejak dini. Dua di antaranya adalah baca dan tulis.

“Karena semakin banyak membaca dan menulis, maka akan semakin kecil kemungkinan seseorang mempercayai hoax,” jelasnya

Fendi Chovi, Koord. Tim Sahabat Literasi juga mengungkapkan bahwa kedatangan tim literasi ke sekolah-sekolah tidak lain untuk menumbuhkan semangat literasi sejak dini, agar kebiasaan menelan mentah hoax tidak terjadi pada generasi. “Selain itu, kami juga memberikan pemahaman tentang ujaran kebencian di medsos,” katanya.

Seperti diketahui bahwa sejak sebulan terakhir ini, aktivis literasi hasil bentukan IAA Cabang Dungkek rajin turun ke sekolah guna menggelar Roadshow Menulis sehari secara gratis. Mulai September hingga Desember 2017. Sejauh ini, baru dua lembaga yang sudah didatangi. Selanjutnya, masih ada 5 lembaga lagi, baik negeri maupun swasta. (DIDIK)

berita lengkapnya di sini koranmadura.com

About Me : Catatan dari Inspirasi.co

Fendi Chovi merupakan salah satu inspirator yang cukup melejit sejak awal tahun ini sebab sangat rajin menulis lalu ia bagi di sini. Memulai berkarya di Inspirasi.co tepat pada 1 Januari 2017, Fendi banyak menuangkan gagasan, cerita mau pun keluh kesannya. Mulai dari tema serius, reflektif hingga kekinian sudah ia tulis pula. Kini ia pun telah berstatus sebagai ‘Inspiration Addict’ berkat unggahannya yang cukup banyak.

Pria asal Yogyakarta ini memulai perkenalannya melalui tulisan “Berguru kepada Muhidin M Dahlan” yang ia unggah pada hari pertama tahun ini. Dari tulisan yang cenderung religius tersebut, Fendi mulai mencoba menulis hal dengan tema ‘anak muda’, seperti misalnya dalam “3 Tips agar Tulisan Dibaca Pacar” dan “Biarkan Jodoh Datang tanpa Harus Ditunggu”, dua hal yang memang menarik buat dibaca dari sekilas judulnya saja. Continue reading →

Upaya Mencintai Sesama Lewat Komunitas

Catatan  : Fendi Chovi

Selama kurang lebih satu minggu bertempat di Omah Jawi, Jogjakarta, saya berkesempatan menikmati kegiatan Interfaith Peace Camp 2014. Kegiatan ini cukup inspiratif dan memberikan wawasan baru tentang kehidupan yang seringkali kita lupakan, yaitu menghargai orang lain. Pada kegiatan Peace Camp ini, saya belajar banyak hal tentang kehidupan ini, termasuk tentang narasi kehidupan manusia. Narasi kehidupan manusia yang begitu panjang, seringkali diwarnai dengan cerita tragedy meski keharmonisan dalam kehidupan ini juga kita saksikan di sekitar lingkungan kita.

20140817_130954Kegiatan Peace Camp ini, merupakan salah satu kegiatan Young Interfaith Peacemakers Community untuk para pemuda dari berbagai daerah. Selama kurang lebih empat hari, para peserta mendapatkan materi tentang 12 nilai perdamaian, sebagai sajian untuk mengenal keberagamaan budaya dan kehidupan manusia.

Kegiatan ini sangatlah menarik karena saya bisa menikmati kegiatan sharing-sharing dengan teman-teman baru yang beda agama dan juga beda keyakinan. Anda tahu bahwa perbedaan keyakinan seringkali menimbulkan perpecahan dan perang yang tidak berkesudahan yang melahirkan korban-korban yang cukup signifikan. Continue reading →

Hal yang Menyebalkan

Hari ini, aku menyaksikan beragam peristiwa yang terjadi di sekitarku. Gosip para tetangga dan kebiasaan membicarakan hal-hal buruk pada diri orang lain. Itu kejadian yang sepertinya menjadi rutinitas orang-orang di sekitarku.

Hal-hal semacam itu terkadang menjadi sesuatu yang menjengkelkan. Tapi, hal itu seringkali terjadi, dan bagai cerita kerapkali melewati hari-hariku tanpa bisa aku cegah. O, beginikah namanya hidup dalam lingkaran sosial dengan akal membicarakan orang lain.

Agar tak menjadi seperti mereka, aku belajar sebagai penyimak. Tapi, jika menyimak terus menerus lama-lama otakku akan jadi sampah yang menampung pembicaraan buruk dan keburukan.

Itu menyebalkan. Iya, kan?

Pikiran Suntuk, Biarkan aku tetap menyendiri

Sejak banyak kasus menimpa para pejabat tinggi pemerintahan di negeri ini, aku kemudian menjadi ilfil untuk memilih siapapun untuk menjadi pemimpin di negeri ini. Aku bertambah sedih karena kandidat yang maju jadi pilpres saat ini berteman dan didukung oleh para politisi senior yang sebenarnya memiliki track record yang buruk. Tidak sedikit dari mereka yang berperilaku kurang terpuji bahkan juga kurang pantas untuk dijadikan tokoh ataupun teladan.

Maka demi mengusir perasaan sakit hati itu, aku akhirnya mengalihkan isu lain yang perlu aku pikirkan saat ini. Pikiran itu berupa, “apa kontribusi yang menarik yang bisa aku berikan kepada para pejabat tinggi di negeri ini?

Aku pikir dengan cara berpikir semacam itu, maka aku kemudian menjadi cerdas dalam menyikapi gempuran buruk tentang perilaku dan kehidupan manusia di sekitarku ini. Aku berharap aku bisa menyelesaikan beberapa hal penting ketimbang pikiranku di masuki informasi racun tentang kehidupan orang-orang yang sebenarnya tidak terlalu besar berpengaruh kepadaku.

Tapi aku juga seperti bersalah ketika dunia luar begitu berkembang pesat sedangkan aku membiarkan semua itu berlalu bagaikan cerita-cerita yang terus berjalan tanpa makna. Aku berharap bahwa nanti aku bisa menyelesaikan semua urusan-urusan yang ada dihatiku ini sebagai peta untuk melihat keadaan lebih besar lagi. Semoga saja begitu.

Melalui Hari dengan Beragam Kegiatan

Blog ini, saya biarkan tetap hidup meski tidak banyak postingan lagi.

Hari ini, saya sepertinya perlu lagi menulis banyak hal tentang apa saja yang berlalu dan itu melihatkan saya sebagai orang di dalam peristiwa itu. Minggu-minggu ini, saya sedang mempersiapkan kegiatan isra mikraj di asrama mahasiswa dan kegiatan itu melibatkan warga masyarakat di sekitar kampus. Menurut kesepakatan dengan pengelola, insya allah kami akan mengundang 700 orang untuk menghadiri acara tersebut. Jumlah yang tidak sedikit meski juga tidak terbilang terlalu banyak.

Rapat dengan teman-teman pun dimulai dan Alhamdulillah, Jakfar Shadiq terpilih menjadi ketua pelaksana. Sebagai kordinator musahhil, saya mendapat jatah jadi penanggung jawab acara. Sebuah tanggung jawab yang juga tidak gampang, meski juga tidak perlu dibuat sulit. Karena ini kerja kebersamaan.

Saya mendapatkan tugas dari pengelola untuk mengundang penceramah, hiburan albanjary untuk menyenandungkan sholawat nabi di pra acara. Tentu saya juga harus mampu mengarahkan motivasi teman-teman meski saya sebenarnya tidak berposisi sebagai motivator. Saya pun berniat untuk bekerja dengan teman-teman. Alhamdulillah, kegiatan tersebut berjalan dengan lancar dan beberapa undangan hadir sesuai dengan harapan meskipun beberapa juga berhalangan hadir.

Saya kira, pengalaman mengadakan acara dan menggelar isra mikraj adalah pengalaman berharga sebagai pembelajaran ketika pulang ke masyarakt suatu saat nanti. Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman atas kerja keras dan sumbangan ide dan pikiran dalam acara tersebut.

Beberapa hal yang bisa saya pelajari dari kegiatan tersebut adalah melihat teman-teman mendekorasi panggung dan melihat kerja sie konsumsi mengatur snack dan jatah makan untuk undangan, ngurusi hal-hal lainnya. Saya hanya memantau dan berkomunikasi jika ada yang kurang. Sesekali saya membantu teman-teman. Saya memperjelas lagi bahwa sebuah acara itu akan sukses dengan baik ketika panitia bekerja sesuai dengan tupoksi (tugas dan fungsi) dalam kepanitiaan. Begitulah. Nanti saya tambahkan lagi tulisan ini.

#Untukku, Untukmu, untuk Sebuah Pembelajaran

Fendi Chovi, komunitas blogger Madura